Gembira adalah Obat

Aku pernah membaca sebuah tulisan di kedai kopi, begini tulisannya: Gembira adalah obat yng tidak dijual di toko obat. Aku membaca tulisan itu dalam keadaan hati yang gembira. Dan aku menyetujui tulisan itu. Aku setuju, bahwa ketika kita menghadapi sebuah kesakitan dengan hati yang gembira, aku percaya bahwa itu adalah obat dari segala jenis kesakitan. Ketika kita masih bisa tetap tersenyum dan tertawa ditengah segala kesulitan, sebenarnya kemudahanlah yang akan datang setelahnya. Ketika kita bisa memahami bahwa kesedihan tidak datang sendirian, melainkan sepaket dengan kegembiraan, lalu untuk apa kita bersedih terus-terusan? Pikiran seperti itulah yang sebetulnya bermakna obat. Obat yang tidak dijual di toko obat. Obat yang kita ciptakan di dalam hati kita masing-masing. Obat dari segala kesakitan yang kita alami. Tapi kini, aku tidak sengaja membaca lagi tulisan "itu" dalam galeri ponselku. Dan bedanya, aku membacanya dalam keadaan yang berbeda dari terakhir kali aku membacanya di kedai kopi itu. Pertanyaan "lalu untuk apa kita bersedih terus-terusan?" kembali muncul di otakku. Bukankah aku mempercayai bahwa disetiap kesulitan pasti ada kemudahan? Aku tertampar dengan isi pikiranku sendiri. Pikiranku yang lain mengatakan bahwa "mengapa aku ditimpa kesakitan yang tiada henti?" "kapan semua ini berakhir?" "kenapa jadi gini, sih?" Semuanya terasa begitu menyedihkan. Pertanyaan pertanyaan kekecewaanku sedang mencari jawabannya saat ini. Dimana obat yang katanya tidak dijual di toko obat itu? Lantas aku memikirkannya berulang kali. Berusaha menetralkan isi kepalaku sendiri. Berusaha tidak memperburuk keyakinanku sendiri. Berusaha mencari jawaban atas segala pertanyaanku sendiri. Sendiri. Siapa peduli dengan kesakitanku? Semua orang di dunia ini memiliki kesakitannya masing-masing. Tidak perlu merasa jadi yang paling tersakiti di dunia ini. Tuhan tidak mengujiku sendirian. Sekali lagi, tidak sendirian. Dari situ aku tertampar akan satu hal. Bahwasanya kita hanya perlu mengitung sebanyak apa gembira yang kita dapatkan. Bandingkan dengan jumlah kesakitannya? Lebih banyak mana? Kegembiraan, kan? Lalu? Apalagi yang akan aku tanyakan? Tidakkah begitu jelas bahwa itulah jawabannya? Menghitung kegembiraan yang telah Tuhan berikan. Dan jangan lupa untuk mensyukurinya. Apa maksud dari mensyukuri? Berterima kasih. Berterima kasih kepada Tuhan akan segala hal. Itulah yang sering aku lupakan. Dan aku tersadar, bahwa masih banyak kegembiraan yang telah maupun akan datang di kehidupanku. Dan bersyukur adalah bentuk kegembiraan dari kesakitan yang kita alami. Kembali lagi pada tulisan di kedai kopi itu. Dan aku kembali menyetujuinya. Akan terus menyetujuinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Elephant

Top Ten Favorite Books of All the Time

Rumah yang Tak Lagi Sama