Bulan dan Bintang Bertemu Lagi

15 Tahun kemudian...


Malam turun dengan pelan, seperti ingin memeluk dunia yang terlalu lelah hari ini. Sepulang kerja, Sasi memutuskan untuk tidak pulang ke apartment-nya, melainkan memilih pergi ke tempat yang lebih tenang. Tempat dimana rumah lamanya dulu berada, sebelum ia pindah ke rumah neneknya. Tidak jadi masalah, long weekend, ia rasa tiga hari cukup untuk melepas penatnya. Menghindari hiruk pikuk ibukota yang kian hari kian padat. 

Tidak butuh waktu lama untuk bersiap di apartment, Sasi segera menyalakan mobilnya dan menancap gas untuk menuju ke Indramayu, tempat masa kecilnya. Hanya tiga jam perjalanan melalui jalan tol dan ia pun sampai. Sasi tidak menuju sebuah rumah, melainkan sebuah pantai. Pantai yang.. menjadi kenangan.

Suara ombak berulang di pantai yang sepi, mengisi celah antara napas Sasi yang berat dan diam yang panjang. Ia memarkirkan mobilnya di tepi pantai dan menghampiri hamparan menyegarkan itu. Bukan kopi, bukan pula uang gajiannya, tapi angin malam itu terasa sangat menyejukkan mata dan pikirannya. Seolah penatnya tadi hilang tersapu angin dan tergulung ombak.

Ia duduk di atas pasir, menatap bulan seperti biasa. Bulan itu bulat sempurna malam ini, terbit dengan tenang—tak tahu bahwa di bawah sana, ada seorang gadis yang menggantungkan seluruh pikirannya padanya. Sasi menikmati lamunannya.

“Lama nggak ketemu, Sas.”

Sasi menoleh cepat. Suara itu... ada kenangan yang ikut menetes bersamanya. Seorang pria berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Rambutnya sedikit acak karena angin, membawa kamera di leher, dan senyumnya—ah, senyum itu—masih hangat seperti dulu.

“...Bintang?” suaranya tercekat.

Pria itu tersenyum lebih lebar, lalu duduk di sebelahnya tanpa banyak basa-basi. Tak terlalu dekat, tapi cukup untuk menandakan ia tak datang hanya untuk lewat.

“Kamu masih suka ngobrol sama bulan, ya?”

Sasi tertawa pelan, kaget karena masih bisa tertawa. “Kamu masih inget itu?”

“Gimana bisa lupa? Kamu satu-satunya anak kelas dua SD yang bisa ngomong gini: ‘Aku lebih suka bulan daripada manusia. Bulan nggak pernah bohong.’”

Mereka tertawa bersama. Lucu, rasanya seperti tidak pernah benar-benar berjauhan. Padahal sudah lebih dari satu dekade berlalu.

Bintang menunjuk langit. “Bulan masih cantik, tapi... kamu juga berubah.”

Sasi menoleh. “Berubah?”

“Iya. Lebih kuat, tapi lebih sepi.”

Sasi terdiam. Tak ada yang pernah mengatakan itu padanya. Tak ada yang cukup peka untuk membaca lapisan-lapisan itu. Lapisan buatannya sendiri yang ia gunakan sebagai benteng pertahanan.

Bintang menatap laut. “Aku juga ke sini kalau lagi penuh. Tapi bedanya, kamu ngobrol sama bulan, aku fotoin dia.”

Ia mengangkat kameranya dan menunjukkan hasil potret tadi. Bulan tampak bulat, cerah, bersih. Tapi saat Sasi memperhatikan lebih dekat, ada bayangan samar awan yang melintas.

“Kadang bulan kelihatan bersinar. Tapi tetap aja dia punya sisi gelap.”

Bintang menatapnya. “Dan itu nggak bikin dia jadi kurang indah.”

Hening. Tapi hening yang menenangkan. Seolah malam sedang mengizinkan mereka menyembuhkan diri—pelan-pelan, tanpa paksaan.

Sasi menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Aku nggak nyangka kamu bisa sedalam ini.”

“Dulu aku cuma anak yang suka ngasih roti ke kamu waktu kamu lupa bawa bekal. Tapi aku tumbuh juga, Sas.”

Sasi menatap bulan lagi, lalu Bintang. “Mungkin kamu tumbuh jadi seseorang yang dibutuhkan bulan.”

“Dan kamu... mungkin kamu cuma butuh ditemani. Nggak diajarin, nggak dinasihatin, cuma ditemani.”

Malam itu, mereka tak banyak bicara lagi. Tapi cukup bagi Sasi untuk tahu—bahwa kali ini, dia tidak sendiri. Bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, bulan punya teman yang layak: Bintang. Ya, Auriga Bintang, namanya.

Setelah diam yang panjang dan senyum-senyum yang terselip di antara angin laut, Sasi dan Bintang akhirnya memutuskan untuk beranjak dari bibir pantai. Mobil Sasi masih terparkir rapi di sisi jalan tanah, dan ternyata mobil Bintang pun tak jauh dari sana. Mereka berjalan beriringan, kaki mereka menjejak pasir yang dingin, tapi tidak satupun dari mereka merasa perlu mengatakan apa-apa lagi malam itu.

“Besok ngapain?” tanya Bintang sambil membuka pintu mobilnya.

Sasi berpikir sejenak. “Nggak tahu. Mau kabur aja dari dunia, sih.”

“Boleh kalau kamu mau ditemenin kabur. Aku juga kebetulan lagi ‘libur dari kenyataan’,” jawab Bintang sambil tertawa.

Mereka pun sepakat bertemu lagi keesokan harinya—tanpa rencana, tanpa pretensi. Hanya dua orang dewasa yang sedang beristirahat dari kerasnya dunia.


*****


Pagi itu, Sasi bangun lebih lambat dari biasanya. Tak ada alarm, tak ada jadwal rapat, tak ada notifikasi. Ia hanya terbangun oleh cahaya pagi yang masuk malu-malu melalui tirai hotel kecil di tepi kota. Tangannya meraih ponsel. Ada satu pesan.

Bintang:

“Aku udah di pantai. Bawa sarapan. Jangan bikin kopi dulu. Kamu harus coba kopi buatan tukang kopi sepuh langgananku dari SD.”

Sasi tersenyum. Dengan cepat, ia mandi dan bersiap. Rambutnya ia kepang seadanya, wajahnya tanpa riasan. Ia merasa bebas.

Bintang menunggunya di bangku bambu dekat warung tua di pinggir pantai. Dua cangkir kopi mengepul di atas meja, dan bungkusan nasi lengko yang hangat masih mengepul. Sasi duduk, menatapnya, lalu berkata, “Kamu masih inget sama makanan favoritku.”

“Aku juga inget kamu nggak bisa makan yang pedas-pedas pagi-pagi,” jawab Bintang santai.

Pagi itu Sasi tertawa kecil, merasa sesuatu dalam dirinya makin menghangat. Curiga nanti pertahanan yang sok kuat itu akan meleleh juga. Dia menghabiskan makanannya, meniup pelan kopi yang masih panas, dan menyeruputnya perlahan. Kali ini, beneran kopi yang membuat matanya segar. Tapi, tak hanya itu, ada satu hal lain lagi. Seorang pria di sampingnya kini yang sedang melahap makanannya, juga membuatnya.. jadi lebih semangat.

"Sudah siap kabur dari dunia, Kapten?" ucap Bintang sambil tersenyum.

"Bisa aja," Sasi terkekeh. 

"Nanti aku jemput," pungkas Bintang. 

Sementara jawaban Sasi, hanya "Ok" sambil tersenyum.

Hari itu mereka habiskan dengan menyusuri tempat-tempat masa kecil. Rumah Sasi yang lama, lapangan tempat mereka pernah lomba lari, bahkan warung kecil tempat mereka dulu beli es lilin. Semua masih ada. Waktu seolah berhenti di tempat itu.

Bintang membawa kameranya ke mana-mana. Ia memotret Sasi dari kejauhan—diam-diam, candid. Sasi pura-pura kesal, tapi hatinya hangat. Entah sejak kapan, tapi ia mulai terbiasa dengan kehadiran Bintang. Tidak ada tekanan. Tidak ada pertanyaan. Hanya keberadaan yang tulus dan tidak menghakimi.


******


Hari terakhir. Udara terasa lebih berat. Entah kenapa, walaupun belum berpisah, ada semacam perasaan kehilangan yang sudah mulai membayangi.

Mereka memutuskan untuk kembali ke pantai saat senja. Duduk di tempat yang sama, seperti dua malam lalu. Ombak tetap datang dan pergi, bulan belum muncul, tapi langit sudah mulai membiru keunguan.

Sasi menyandarkan kepalanya ke bahu Bintang. Tak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Hanya napas yang ritmis dan suara angin yang mengisi ruang di antara mereka.

“Aku nggak tahu hidup bakal kayak apa besok,” ujar Sasi pelan, “Tapi kalau kamu nggak keberatan, aku pengin ada kamu di sana.”

Bintang tak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Sasi perlahan, mengatupkannya hangat.

“Aku di sini bukan buat lalu-lalang, Sas. Kalau kamu izinkan, aku mau jadi rumah,” katanya pelan.

Dan di malam terakhir liburannya, di bawah langit yang mulai memunculkan bintang-bintang kecil dan bulan separuh muncul di ufuk, Sasi tahu satu hal:

Pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat lama. Kadang, pulang adalah bertemu seseorang yang membuatmu berhenti berlari. Dan kali ini, tempat itu bernama Bintang.


*****

to be continued.

.

.

.

"Kadang, pulang adalah bertemu seseorang yang membuatmu berhenti berlari." -Sasi Permata.

*****


Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Elephant

Top Ten Favorite Books of All the Time

Rumah yang Tak Lagi Sama