Rumah yang Tak Lagi Sama


Langit malam menggigil dalam diam. Bulan menggantung pucat di angkasa. Di bawahnya, seorang gadis kecil duduk memeluk lutut di beranda rumah nenek kesayangannya, sendirian, seperti kebiasaan yang tak pernah benar-benar ia pilih. Merenungkan segala hal, kebingungannya, rasa penasarannya, pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya, merindukan mulut yang bersedia merengkuh semua protesnya. Namun sayang, saat ini hanya bulan yang mau mendengarnya, yang mampu menemaninya. Setidaknya, dia tidak merasa sendiri. Sinar bulan yang selalu menyenangkan, membuatnya selalu tersenyum simpul. Selalu. Entah bagaimana nama perasaannya, tapi bagi gadis kecil itu, hal itu membuatnya sedikit lebih tenang.

Gadis itu baru berusia sepuluh tahun, tapi dunia sudah terlalu berat untuk pundaknya yang masih kecil. Rumah ini—tempat ia dan ketiga adiknya kini tinggal—hangat namun asing, tak memiliki jejak tawa yang dulu pernah ia kenal. Suasana yang tiba-tiba baru baginya. Gadis itu tak paham, sesuatu telah terjadi padanya. Dia belum sepenuhnya sadar bahwa sebenarnya dia baru saja diuji.

Ia teringat, dulu, rumah mereka penuh musik. Ayahnya suka memutar lagu favoritnya di pagi hari. Ibunya akan tertawa sambil memasak dan mencuci baju, dan gadis kecil itu menari-nari di ruang tengah sambil bergelantungan di kaki ayahnya. Namun sekarang? Yang terdengar hanya detak jam. Dan terkadang, suaranya sendiri yang terisak dalam tidur, tidak ada yang mengetahui.

Ayahnya pergi lebih dulu. Tak ada perpisahan, hanya ketidakhadiran yang menjelma jadi lubang di tempat tidur. Ibunya menyusul, bukan pergi secara fisik, tapi perlahan-lahan menghilang—menjadi bayangan yang menatap kosong dan menjawab pertanyaan dengan diam. Lagi lagi gadis kecil itu berusaha memahami, "Apa yang sebenarnya telah terjadi?" 

Lalu suatu pagi pun datang, mereka semua pindah. Dijemput sesorang yang ia kenal sebagai pamannya. Gadis itu semakin penasaran, namun enggan untuk menanyakan. Dilihatnya wajah ibunya, hanya memberikan tatapan kosong, tanpa ekspresi, tanpa suara. Seolah paham, ia pun hanya patuh dan ikut naik ke mobil bersama adik-adiknya. Namun, anak kecil tetaplah anak kecil, gadis itu tak sengaja menyeletuk, "Mau kemana kita, paman?" Dan hanya jawaban "Untuk sementara, kita ke rumah nenek." dari pamannya yang ia dapatkan. Tapi lagi-lagi, sayangnya kata "sementara" bisa berubah jadi "selamanya" tanpa aba-aba. 

Sekarang, di malam yang dingin ini, dengan penuhnya pertanyaan dalam hatinya, ia ingin bertanya. Ingin sekali bertanya. Kenapa ayah tak kembali? Kenapa ibu tak pernah menyisir rambutnya lagi? Kenapa rumah itu kini jadi tempat asing dalam kenangan? Tapi setiap kali mulutnya hendak mengeluarkan kata, suara itu tiba-tiba tenggelam oleh keyakinannya yang pahit bahwa: apa pentingnya suara anak kecil ini bagi dunia orang dewasa yang sibuk? Suara hatinya itu mengatakan bahwa pertanyaannya cukuplah sampai di hati saja, tak perlu keluar dari mulut kecilnya. Seolah ada bagian lain dari dirinya yang menahannya. Bagian lain yang seringkali membuatnya berfikir dua kali sebelum berbicara. Sejak saat itu, dia mulai bersikap diam, tak banyak tanya, tak banyak menuntut, hanya diam dan memperhatikan. 

*****

"Sasi Permata" tulisnya pada halaman depan sebuah buku mungil yang baru ia beli di sekolah tadi. Gadis itu merasa, ia perlu sekali bercerita, tentang bagaimana perasaannya. Agar tidak penuh dalam kepala, batinnya. Bulannya lama tidak ia temui karena cuaca akhir-akhir ini sering hujan. Itulah mengapa ia memutuskan untuk menuliskan semua hal yang ada dibenaknya. Dia juga sadar bahwa tidak ada yang bisa ia ajak bicara saat itu. Semua orang disekitarnya selalu tegang, wajahnya kencang, dahinya mengerut. Ia paham bahwa ada sebuah masalah yang belum bisa dia ketahui. Bahwa dikondisi seperti ini, seharusnya anak-anak tidak perlu tau dan tidak ikut campur. Sasi bergelut dengan pikirannya sendiri. Bagian lain di dirinya seolah mengatakan, kita masih anak kecil, itu urusan orang dewasa. Oleh karena itu, dengan membeli sebuah buku diary, mungkin dia akan merasa sedikit lebih lega. Mungkin.

Sasi hanya anak sepuluh tahun. Tapi hidup tak memberinya waktu untuk menangis terlalu lama. Adik-adiknya butuh ditenangkan, dibacakan dongeng, dan butuh pelukannya. Dunia melemparkannya ke posisi yang tak pernah ia minta, dan memintanya untuk tidak mengeluh. Dan Sasi paham betul akan hal itu. Ia berusaha. Berusaha menjadi anak dan kakak yang baik. Setidaknya, dia menemukan kekuatannya dan tidak berada dalam keterpurukan yang dalam.

Menulis menjadi satu-satunya cara ia bernapas. Dalam diam, Sasi menyelipkan buku diary nya di bawah bantal. Ia menulis segalanya. Tentang ayah yang menghilang seperti bayangan saat lampu padam. Tentang ibu yang menjelma menjadi dinding. Tentang dirinya sendiri, yang berpura-pura kuat padahal retak di setiap sisi. Di atas kertas, ia menangis. Di atas kertas, ia berteriak. Tapi di dunia nyata, ia tetap tersenyum. Karena bukankah itu yang orang dewasa harapkan dari anak-anak? Diam dan patuh? Sejak saat itu pula, mata bulatnya yang selalu berbinar cerah, seakan meredup tanpa disadari oleh orang lain bahkan dirinya sendiri.

*****

Angin malam menyentuh kulitnya seperti bisikan rahasia. Malam ini bulan ada di sana, saksi bisu dari semua yang tak bisa ia katakan. Seolah musim hujan pun tahu, Sasi merindukan bulannya. Sasi menatapnya lama, matanya berbinar, senyumnya manis dan simpul. Melihat bulan saja rasanya bisa selega ini, batinnya. Ia berharap langit bisa membalas tatapan itu. Berharap awan bisa memeluk dan menyelimuti tubuh mungilnya itu. Tapi tak ada yang terjadi. Hanya awan hitam yang tiba-tiba lewat dan menghalangi pandangannya pada bulan. Keheningan yang tiba-tiba menggantung, seperti jeda panjang dalam lagu yang tak selesai-selesai. Teringat semua hal yang mengusik pikirannya. Ia menutup matanya. Air matanya mulai menetes. Seolah ingin menemani, awan pun ikut menangis gerimis. Dalam hatinya, bergetar satu kalimat yang belum pernah ia ucapkan pada siapa pun. “Aku juga ingin disayangi, seperti dulu.” 

Sasi menikmati tetes demi tetes hujan yang makin lama makin deras itu. Sejuk, cukup untuk mendinginkan kepalanya yang memanas tadi. Cukup untuk menenangkan pikirannya. Dia tersenyum tatkala ia menyadari bahwa Tuhannya baik sekali. Baik sekali menghadirkan teman menangisnya malam ini. Hujan. Di balik senyumnya, ia menyimpan gemuruh. Seberisik gemuruh petir yang mulai menyambar. Di balik matanya yang penuh air bening mengalir, dunia sudah patah sejak lama. Tapi ia harus terus berjalan, sebab adik-adiknya menggenggamnya dalam gelap. Sebab ia masih percaya bahwa Tuhan menyayanginya. Sebab ia yakin akan ada banyak hal-hal baik yang datang. Hidup memang nggak sesederhana yang aku kira, ya. Dan di hujan tengah malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Sasi masih berharap... mungkin esok akan membaik. Mungkin. Semoga saja.

*****

 to be continued.
.
.
.
"Karena tak semua kehilangan terlihat dari mata. Ada yang menetap di dada, dalam diam, dan tak pernah pergi." — Sasi Permata.

*****

Bab selanjutnya: Surat untuk Tuhan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Elephant

Top Ten Favorite Books of All the Time