Apa Boleh Semanis Ini Dengan Teman Sendiri?

Kisah ini tentang Sasi, siapa lagi? Perempuan yang suka sekali bercerita kepada Bulan. Yang dengan menumpahkan segala ekspresinya kepada bulan di atas sana, perasaannya menghangat. Yang hanya dengan memandangnya saja, bibirnya tersenyum. Sasi begitu mencintai bulan layaknya ia mencintai matematika. Tidak ada hubungannya memang, tapi dia secinta itu dengan dua hal tersebut. 

 Bulan mulai menjadi temannya sejak ia berusia tujuh tahun. Sasi senang sekali duduk di bangku depan rumahnya dulu, menatap langit, menunggu awan melintas untuk segera melihat bulan kembali muncul di hadapannya. Dahulu, ia menatap bulan di temani ayahnya. Bercerita apa saja yang ia alami seharian kepada bulan yang ia percaya bisa mendengarkan segala ceritanya. Seolah bulan lebih berhak tau cerita dia hari itu ketimbang ayahnya yang duduk di sampingnya. Lucu sekali Sasi kecil waktu itu. 

Ayahnya hanya tersenyum tipis sambil sesekali menghisap rokoknya ketika mendengarkan cerita putri kecilnya kepada bulan itu. Menikmati angin malam yang mampu menghilangkan stressnya di kantor tadi. Hatinya menghangat ketika sesekali ia mengusap pucuk kepala putri kesayangannya itu. Sasi menoleh, mengangkat satu alisnya seolah menanyakan, ada apa yah? 

“Udah malam, nanti masuk angin. Tidur yuk?” Sasi kecil mengangguk. Ayahnya menyambutnya dengan mengulurkan kedua tangannya, siap menggendong. Dengan semangat Sasi kecil berdiri dan melompat ke pelukan ayahnya. 

 Tak sadar air matanya menetes begitu saja. Teringat kenangannya bersama ayahnya yang sangat menyayanginya itu. Kini, Sasi tidak lagi di temani ayahnya. Setiap ia menemui bulan kesayangannya, tidak ada lagi yang mengusap pucuk kepalanya. Ia hanya mampu mengusap lengannya sendiri ketika angin malam yang dingin mulai menyapanya. Tidak dapat dipungkiri, ia sangat merindukan ayahnya setiap kali menatap bulan. Ia juga sering menitipkan salam kepada bulan untuk ayahnya diatas sana. Baginya, bulan selalu bisa mendengarkannya. Meski tidak pernah dijawab, Sasi yakin bulan menyimpan ceritanya bagai seorang pendengar yang baik. Sespesial itu bulan dimata Sasi sampai ia menyebutnya sebagai my best story place

Pernah pada suatu ketika, saat ia duduk di bangku SMA, Sasi jatuh cinta pada novel karya penulis favoritnya, Tere Liye, yang berjudul “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”. Cerita pada novel itu mengisahkan tentang perjalanan seorang manusia yang berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya dalam hidup sebelum ajal menjemput. Sasi kagum akan sosok Rey, tokoh utama dalam ceirta tersebut, yang dengan segala perjalanan kehidupan yang tidak mulus, ia tidak pernah menceritakan masalah hidupnya kepada siapapun. Rey memiliki kesamaan dengan Sasi. Rey suka sekali memanjat tower listrik hanya untuk memandang bulan dari dekat. Persis seperti dirinya yang suka sekali menatap rembulan. 

 Bagi Sasi, bulan itu selalu menenangkan. Bulan selalu damai. Dari sekian hiruk pikuk kesibukan dunia yang ia temui seharian, semua itu akan sirna hanya dengan memandangi bulan dalam langit malam. Terkadang ia berfikir, mengapa bulan bisa sebegitu indah? Seindah itu hingga ia tidak bosan lama-lama memandangnya. Sedamai itu hingga ia percaya, bulan bisa mendengarkan cerita-ceritanya. Mengapa?

Malam ini, Sasi kembali menemui bulan kesayangannya untuk bercerita. Ceritanya kali ini benar-benar menarik. Sasi akan menceritakan tentang Bulan ke bulannya. Paham tidak? Iya, cerita Sasi kali ini tentang Bulan, temannya. Ia sudah siap menceritakannya malam ini. Menyeduh teh panas tanpa gula, duduk menghadap ke jendela kamar yang terbuka, sejenak ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mulai memandangi cantiknya rembulan. “Kamu tahu nggak?” ucapnya memulai cerita. 

  “Apa boleh dia bertingkah semanis ini?” Itu pertanyaan temanku. Ada, teman perempuanku, Bulan namanya. Kamu tahu kan? Nah, kita berteman baik. Kita juga sering sharing, cerita, tukar pendapat, curhat. Bukan, bukannya aku nggak cerita ke kamu ya. Ini sekarang aku lagi cerita kan? Hehe. Intinya aku mendengarkan dia cerita, dia percayakan ceritanya sama aku. Sama seperti aku percaya sama kamu kan? Karena aku tahu, cuma cerita ke kamu yang paling aman deh. Ya kan? 

  Nah, lucunya, ternyata kisah percintaan kita sama. Aku sama Bulan sama-sama jadi badut, tahu gak? Hahahaha nggak deng, bercanda. 

Balik lagi ke cerita dia ya. Bulan sedang dekat dengan seseorang. Tapi, mereka hanya sebatas teman. Kayaknya mereka kejebak friendzone deh. Dia bilang gini ke aku: “Anehnya, aku mulai nyaman sama dia, Sas. Kenapa ya?” Terus aku jawab gini: “Gatau deh,” 

  Tapi bener kan? Aku sendiri aja kejebak friendzone, kan? Kebiasaan banget deh sama-samaan gini. Hahahaha. 

Bulan lanjut bilang gini: “Tapi aku berusaha banget buat nggak kelihatan. Aku tau dia suka sama cewe lain. Yang padahal, aku udah lebih dulu suka sama dia lho,” 

Aku mikir, yah, kalau udah tau doi suka orang lain gini nih yang bikin susah. Tapi, nggak ada yang salah kan buat jatuh cinta kepada siapa dan kapan saja? Cuma kadang cinta hadir di orang yang salah dan bisa jadi di waktu yang kurang tepat juga.

Terus Bulan lanjut cerita: “Sedih? Ada sih sedikit saja, tapi bukan berarti aku iri atau berfikir jelek lainnya ya. Aku tetap seperti ini kok, nggak berubah sedikitpun. Aku juga sadar kalau aku nggak bisa membiarkan perasaan ini semakin nggak sopan. Aku nggak akan membiarkan hatiku semakin suka sama dia. Aku berusaha banget buat tetep menganggap dia temenku.” 

Lalu aku mulai menanggapi ceritanya itu. Aku bilang ke Bulan, “Memang yang seharusnya seperti itu, kan? tetep jadi teman?” Dia mengangguk. Tapi, ada hal yang bikin aku bertanya-tanya. Hal manis seperti apa yang Bulan terima? Sampai sampai dia bilang “Apa boleh semanis ini dengan teman sendiri?” 

Bulan jawab seperti ini, “Dia tahu aku suka banget sama bunga daisy. Dan aku, pertama kali ketemu sama orang yang selalu notice aku dengan bunga daisy.” 

  Dia melanjutkan ceritanya, “Pertama, dia pernah kasih tau aku kalau ada lampu tidur baguss banget, ada corak daisy nya. Itu lampu tidur lucuu dan aesthetic banget tahu. Kedua, dia ngajak aku main bareng ke taman bunga daisy. Kamu tahu dimana? Dieng! Bener-bener seindah itu! Aku juga banyak foto foto disana, aku post di feed Instagram juga, kan? Lucu bangett. Ketiga, dia juga pernah ngasih tau aku lewat pap random kalau ada bunga daisy waktu dia mendaki gunung sama temen-temennya. Buat apa? Kenapa dia senotice itu? Kenapa?” 

  Itu sudah di luar prediksi bmkg sih menurutku ya. Itu sweet bangettt. Pantesan Bulan bilang gitu. Tapi, tahu nggak aku bilang apa ke Bulan? Aku bilang, “Kebetulan aja kali?” Hahaha jahat banget ya, sorry Bulan cuma bercanda kok. Hahahaha. 

Tapi emang, kan? Bisa jadi cuma kebetulan aja?

Oh iya, dia juga ngelanjutin ceritanya begini, “Baru minggu lalu, dia kasih tau aku ada kalung silver lucuu sekalii, bandulnya bentuk bunga daisy. Itu sumpah cantikk dan elegan banget tauuu. Pertanyaannya, kenapa? Kenapa dia begitu? Dia biasa aja kan kayak gitu? Dia Cuma orang yang friendly aja, kan? Kenapa dia sepeduli itu tentang kesukaanku? Kenapa coba? Aku niatnya nggak mau bawa perasaan tau, tapi itu hal yang manis banget buat aku.” 

Detik itu juga, aku teriak “That’s so sweet! Apa boleh semanis ini sama temen? Apa di mata dia hal seperti itu biasa aja ya? Masa sih? Dia bilangnya lagi suka ke cewe lain, tapi kenapa ke kamu sepeduli itu?” 

Kayak, iya nggak sih? Siapa yang nggak melting coba. Aku yang denger ceritanya aja berusaha banget buat nggak cepet meleleh kayak es krim mixue loh. 

Fokus Sasi mulai terganggu karena ada awan yang sedang lewat sehingga bulannya tertutup untuk beberapa saat. Ia mulai merasakan angin malam yang membuat lengannya kedinginan. Sasi menjeda ceritanya dengan mengambil selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Teh hangat yang mulai mendingin pun ia teguk. Membasahi tenggorokannya yang kering karena asik bercerita. Menunggu awan yang tak kunjung hilang, rasa kantuk pun tiba-tiba menghampiri. Sasi menguap beberapa kali sebelum akhirnya bulan pun nampak kembali dan ia melanjutkan ceritanya. 

  Setelah itu, Bulan bingung, “Yang aneh juga sebenernya aku sih. Kalau emang hal seperti itu biasa aja di mata dia, kenapa aku lebay? Kenapa aku harus seneng? Kenapa aku merasa dia sepeduli itu sama aku? Tapi itu daisy loh. Itu hal yang spesifik buat aku.”

Aku akhirnya juga tetep berfikir jernih sih, aku bilang ke Bulan kayak gini: “Siapa tau dia begitu karena tahu aja kamu suka banget sama bunga daisy. Maybe, ya kan?” Aku bilang gitu biar dia nggak terlalu terbang, soalnya hubungannya belum ada status apa-apa, mereka cuma temen. Ya kan?

Bulan akhirnya bilang gini, “Gitu aja kali ya biar aku ngga kepedean. Hahahaha. Udah gitu aja sih ceritanya. Makasih yaa, Sasi. Kamu udah selalu dengerin cerita akuu.” Aku peluk dia dan coba kasih saran juga biar jangan terlalu berharap dulu. 

Aku bilang gini: “Dia itu friendly, jangan bawa perasaan ya kalau nggak mau capek sendiri.” Dia mengangguk dan tersenyum.

Aku bener nggak sih bilang gitu ke dia? Aku khawatir aja kalau dia belum ada status, mending jangan baper dulu. Iya nggak sih? Bener kan aku? Ya udah deh, segitu dulu yaa ceritaku malam ini. Aku udah ngantuk. Bye byee bulan. 

 Sasi menyudahi ceritanya dan menutup jendela kamarnya. Angin malam entah kenapa membuatnya semakin mengantuk. Dingin sekali pula. Ia melambaikan tangan kepada bulan sebelum akhirnya dia menarik gorden. Sasi membenarkan posisi tidurnya, mematikan lampu tidur di nakas, dan mulai tertidur terlelap. 




 Tamat. 
To be continued.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Elephant

Top Ten Favorite Books of All the Time

Rumah yang Tak Lagi Sama