Surat Untuk Tuhan

Matahari baru saja tenggelam, menyisakan semburat cahaya jingga yang indah di langit. Malam mulai datang, tapi aroma di dapur rumah nenek Sasi masih menguar kuat. Hari ini, nenek memasak opor ayam dengan sambal goreng kentang kesukaan Sasi. Ada juga tumis buncis, tahu bacem, dan kerupuk putih yang disangrai sendiri. Sasi segera menghampiri neneknya di dapur, hendak mencicipi masakan neneknya yang dari aromanya saja berhasil membuat perutnya keroncongan.  Keren, masakan nenek yang terbaik! batinnya. 

"Letakkan semua makanan ini di meja makan, nduk." ucap neneknya.

"Siap nek!" ucap Sasi dengan segera melaksanakan perintah neneknya. Memindahkan semua makanan ke meja makan.

"Ajak adik-adikmu makan, semuanya sudah siap."

"Adik-adik.. ayoo.. makan.. masakan nenek sudah siaapp.." teriak Sasi menghentikan tawa adik-adiknya yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mereka bergegas memenuhi panggilan kakaknya, eh, panggilan perutnya juga sih. Bersorak senang ketika melihat menu favorit mereka hadir di makan malam ini.

Setelah selesai meletakkan semua piring di atas meja makan, Sasi duduk di pojok ruang makan, memperhatikan adik-adiknya yang berebut kerupuk sambil tertawa. Nenek menyendokkan nasi hangat ke piring mereka satu per satu, seperti menyendokkan rasa aman ke hati yang belum sepenuhnya pulih.

Hari ini… rasanya berbeda.

Bukan karena lukanya sembuh, tapi karena ada hangat yang menyelimutinya pelan-pelan.

Setelah makan, keluarga besar pun datang. Tante dan Om nya dari kota datang membawa baju baru dan cerita lucu. Sepupunya, mengajak mereka main tebak gambar. Bahkan, Sasi sendiri yang biasanya pendiam, kali ini ikut tertawa saat adiknya menirukan suara ayam jantan.

“Kalian harus ikut ke taman safari minggu depan!” seru Tantenya. “Kita ajak kalian lihat jerapah, gajah, sama makan di restoran yang ada ikan-ikannya itu, loh!”

Mata Sasi berbinar. Ia tahu senyum ini bukan senyum pura-pura.

Dan malam itu, di kamarnya, ia menulis lagi. Bukan surat sedih. Tapi sesuatu yang lebih seperti… rasa syukur.

Untuk Tuhan,
(jika boleh aku bicara malam ini...)

Terima kasih karena Engkau adil.
Kesedihanku tak Engkau biarkan sendiri.
Kau kirim nenek.
Kau kirim tante, om, sepupu, dan banyak tawa yang tidak kuminta,
tapi ternyata kubutuhkan.

Aku pernah merasa sepi.
Tapi hari ini aku tahu—
Aku tidak sendiri.

Ada tangan-tangan yang menggenggamku,
walau bukan tangan Ayah atau Ibu.

Ada pelukan yang tak kutahu kubutuhkan,
sampai aku menerimanya.

Aku tahu sekarang…
kesedihan datang sepaket dengan kebahagiaan.
Dan Kau Maha Adil karena memberiku keduanya.

Terima kasih,
karena hari ini… aku merasa utuh, meski hidup tidak sempurna.

Dari,
Sasi Permata.

Sasi menutup buku catatannya dan menyelipkannya lagi di bawah bantal. Di luar kamar, nenek sedang menyetrika sambil bersenandung pelan. Di ruang tamu, adik-adiknya tertidur sambil memeluk boneka yang baru dibelikan sepupunya.

Untuk pertama kalinya sejak semua berubah, Sasi merasa dunia tidak sepenuhnya gelap.
Ada banyak cahaya—kecil-kecil, hangat, nyata.

Sasi tahu hatinya tidak lagi kosong.

*****

to be continued.

.

.

.

"Kadang, Tuhan tak menghapus lukamu…
tapi Ia kirimkan pelukan,
melalui orang-orang yang diam-diam sangat mencintaimu." -Sasi Permata

*****

Bab Selanjutnya: Bulan dan Bintang Bertemu Lagi 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Elephant

Top Ten Favorite Books of All the Time

Rumah yang Tak Lagi Sama