Postingan

Bulan dan Bintang Bertemu Lagi

15 Tahun kemudian... Malam turun dengan pelan, seperti ingin memeluk dunia yang terlalu lelah hari ini. Sepulang kerja, Sasi memutuskan untuk tidak pulang ke apartment -nya, melainkan memilih pergi ke tempat yang lebih tenang. Tempat dimana rumah lamanya dulu berada, sebelum ia pindah ke rumah neneknya. Tidak jadi masalah, long weekend , ia rasa tiga hari cukup untuk melepas penatnya. Menghindari hiruk pikuk ibukota yang kian hari kian padat.  Tidak butuh waktu lama untuk bersiap di apartment , Sasi segera menyalakan mobilnya dan menancap gas untuk menuju ke Indramayu, tempat masa kecilnya. Hanya tiga jam perjalanan melalui jalan tol dan ia pun sampai. Sasi tidak menuju sebuah rumah, melainkan sebuah pantai. Pantai yang.. menjadi kenangan. Suara ombak berulang di pantai yang sepi, mengisi celah antara napas Sasi yang berat dan diam yang panjang. Ia memarkirkan mobilnya di tepi pantai dan menghampiri hamparan menyegarkan itu. Bukan kopi, bukan pula uang gajiannya, tapi angin malam i...

Surat Untuk Tuhan

Matahari baru saja tenggelam, menyisakan semburat cahaya jingga yang indah di langit. Malam mulai datang, tapi aroma di dapur rumah nenek Sasi masih menguar kuat. Hari ini, nenek memasak opor ayam dengan sambal goreng kentang kesukaan Sasi. Ada juga tumis buncis, tahu bacem, dan kerupuk putih yang disangrai sendiri. Sasi segera menghampiri neneknya di dapur, hendak mencicipi masakan neneknya yang dari aromanya saja berhasil membuat perutnya keroncongan.   Keren, masakan nenek yang terbaik! batinnya.  "Letakkan semua makanan ini di meja makan, nduk ." ucap neneknya. "Siap nek!" ucap Sasi dengan segera melaksanakan perintah neneknya. Memindahkan semua makanan ke meja makan. "Ajak adik-adikmu makan, semuanya sudah siap." "Adik-adik.. ayoo.. makan.. masakan nenek sudah siaapp.." teriak Sasi menghentikan tawa adik-adiknya yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mereka bergegas memenuhi panggilan kakaknya, eh, panggilan perutnya juga sih. Berso...

Rumah yang Tak Lagi Sama

Gambar
Langit malam menggigil dalam diam. Bulan menggantung pucat di angkasa. Di bawahnya, seorang gadis kecil duduk memeluk lutut di beranda rumah nenek kesayangannya, sendirian, seperti kebiasaan yang tak pernah benar-benar ia pilih. Merenungkan segala hal, kebingungannya, rasa penasarannya, pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya, merindukan mulut yang bersedia merengkuh semua protesnya. Namun sayang, saat ini hanya bulan yang mau mendengarnya, yang mampu menemaninya. Setidaknya, dia tidak merasa sendiri. Sinar bulan yang selalu menyenangkan, membuatnya selalu tersenyum simpul. Selalu. Entah bagaimana nama perasaannya, tapi bagi gadis kecil itu, hal itu membuatnya sedikit lebih tenang. Gadis itu baru berusia sepuluh tahun, tapi dunia sudah terlalu berat untuk pundaknya yang masih kecil. Rumah ini—tempat ia dan ketiga adiknya kini tinggal—hangat namun asing, tak memiliki jejak tawa yang dulu pernah ia kenal. Suasana yang tiba-tiba baru baginya. Gadis itu tak paham, sesuatu telah terjadi padany...

Gembira adalah Obat

Aku pernah membaca sebuah tulisan di kedai kopi, begini tulisannya: Gembira adalah obat yng tidak dijual di toko obat. Aku membaca tulisan itu dalam keadaan hati yang gembira. Dan aku menyetujui tulisan itu. Aku setuju, bahwa ketika kita menghadapi sebuah kesakitan dengan hati yang gembira, aku percaya bahwa itu adalah obat dari segala jenis kesakitan. Ketika kita masih bisa tetap tersenyum dan tertawa ditengah segala kesulitan, sebenarnya kemudahanlah yang akan datang setelahnya. Ketika kita bisa memahami bahwa kesedihan tidak datang sendirian, melainkan sepaket dengan kegembiraan, lalu untuk apa kita bersedih terus-terusan? Pikiran seperti itulah yang sebetulnya bermakna obat. Obat yang tidak dijual di toko obat. Obat yang kita ciptakan di dalam hati kita masing-masing. Obat dari segala kesakitan yang kita alami. Tapi kini, aku tidak sengaja membaca lagi tulisan "itu" dalam galeri ponselku. Dan bedanya, aku membacanya dalam keadaan yang berbeda dari terakhir kali aku mem...

Apa Boleh Semanis Ini Dengan Teman Sendiri?

Gambar
Kisah ini tentang Sasi, siapa lagi? Perempuan yang suka sekali bercerita kepada Bulan. Yang dengan menumpahkan segala ekspresinya kepada bulan di atas sana, perasaannya menghangat. Yang hanya dengan memandangnya saja, bibirnya tersenyum. Sasi begitu mencintai bulan layaknya ia mencintai matematika. Tidak ada hubungannya memang, tapi dia secinta itu dengan dua hal tersebut.   Bulan mulai menjadi temannya sejak ia berusia tujuh tahun. Sasi senang sekali duduk di bangku depan rumahnya dulu, menatap langit, menunggu awan melintas untuk segera melihat bulan kembali muncul di hadapannya. Dahulu, ia menatap bulan di temani ayahnya. Bercerita apa saja yang ia alami seharian kepada bulan yang ia percaya bisa mendengarkan segala ceritanya. Seolah bulan lebih berhak tau cerita dia hari itu ketimbang ayahnya yang duduk di sampingnya. Lucu sekali Sasi kecil waktu itu.  Ayahnya hanya tersenyum tipis sambil sesekali menghisap rokoknya ketika mendengarkan cerita putri kecilnya kepada bul...

Top Ten Favorite Books of All the Time

What I love about other people’s books?  I love reading a book especially novel. That’s my hobby. That’s why I’m interesting in literature study. I have read many books since I was in high school. Most of the books that I have already read in high school are in Bahasa Indonesia. But recently I read some English books. From around dozens of books, there are some books that I love the most. Here, I will show the list of my favorite books.  1. It Ends With Us by Colleen Hoover (2016) 2. Hujan by Tere Liye (2016) 3. Kembara Rindu by Habiburrahman El Shirazy (2019) 4. Rindu by Tere Liye (2014) 5. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck by Buya Hamka (1938) 6. Tentang Kamu by Tere Liye (2016) 7. Gerbang Dialog Danur by Risa Saraswati (2011) 8. Rembulan Tenggelam di Wajahmu by Tere Liye (2006) 9. Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq (2014) 10. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye (2014) All these books are the best for me. Now, let me identify the similarities...

I'm Elephant

Gambar
Hi, I'm Elephant. What do you know about me? I'm one of the animals that have lived since ancient times. What do I look like? I am a large-bodied mammal, with wide ears, have a long trunk, and tusks that are my trademark. And how about my life? Where do I live? I live in the forest, but most of us are also cared for in several zoos and wildlife reserves. In Indonesia, there is the Way Kambas National Park, the conservation area for elephants like me. And how about kinds of food I eat? I'm herbivores, so I will eat leaves, twigs, fruit, tree bark and roots. And you must know about some of things that I can do. I can take food using my long trunk. I can also feel the feelings around me. Now, you already know about me. That's all and see you!